Dalam konten media sosial, POV sering digunakan untuk menciptakan narasi yang relatable namun terkadang tidak realistis.
Menjadi cara halus untuk mengkritik perilaku sosial yang dianggap tidak sehat namun lazim dilakukan. Dalam konten media sosial, POV sering digunakan untuk
Malay and Indonesian pop culture has a long history of romanticizing sengsara (struggle/suffering). From classic Dangdut lyrics to 2000s sinetrons, love is often portrayed as a battlefield where the person who suffers more loves more. By becoming a budak , you prove your "pure" intentions. Dalam konten media sosial
"POV: Kamu yang paling capek, tapi kamu yang paling sibuk minta maaf ke orang lain." Dalam konten media sosial, POV sering digunakan untuk
Beri tahu (apakah ingin lebih sedih, satir/lucu, atau inspiratif).